Mengenal Maksud dan Istilah Rapek Mancik

Mengenal Maksud dan Istilah Rapek Mancik

12/08/2026 General 0

RAPEK MANCIK-MANCIK (Part 1)

Pernah dengar istilah rapek mancik-mancik?

Rapek dalam bahasa Minang kalau di bahasa Indonesia-kan artinya rapat (forum rapat). Mancik dalam dalam bahasa Minang kalau di bahasa Indonesia-kan artinya tikus. Jadi rapek mancik-mancik kalau di bahasa Indonesiakan secara tekstual artinya adalah rapat tikus-tikus.
Tapi, Bro, jangan berpikir bahwa istilah ini menyamakan orang dengan tikus ya. hehehe.

Secara umum istilah rapek mancik-mancik ini adalah istilah yang digunakan untuk menyebutkan situasi dalam sebuah pertemuan, dimana peserta pertemuan itu berlomba-lomba untuk berbicara mengeluarkan bermacam dalil dan teori, terkadang berdebat hebat dan saling menyerang tapi pertemuan itu tak jelas ujungnya dan tidak menghasilkan apa-apa.

Situasinya seperti tikus berkumpul dan ber-cericit rame-rame.

Istilah ini dulu ku dengar dari seorang senior saat kami mengikuti beberapa rapat. Beliau sering menyelamatkan ku dari situasi rapek mancik-mancik ini.

Kalau sudah berkumpul dan rapat, apalagi rapat itu dihadiri oleh ketua organisasi, ramenya luar biasa. Muncul semacam perlombaan untuk di dengar. Sedikit sekali yang bersabar untuk mendengar. Kalaupun mendengar, pendengaran itu bukan untuk menyimak, tapi untuk mencari celah menyerang pendapat orang lain. Lalu pembicaraannya melebar tak berketentuan. Yang tak perlu dibicarakan, atau tak sesuai tema pertemuan pun dibicarakan. Akhirnya sulit untuk diambil kesimpulan hasil dari pertemuan itu.

Jadi pada model rapek mancik-mancik ini, orang-orang yang sudah berlelah-lelah dengan niat ber-musyarawah itu, sebenarnya tidak menghasilkan apa-apa. Pada bebarapa kasus malah membawa keburukan dan beberapa menjadi putus tali silahturahmi.

Kalau sudah begini, biasanya beliau akan mengajak ku, “ayo kita ke belakang, sudah mulai rapek mancik-manciknya.” Lalu kami ke belakang minum kopi sambil mengamati:)

Akhirnya menjadi kebiasaan bagi ku. Kalau pertemuannya sudah “tidak jelas” aku pun mundur teratur nyari hiburan untuk menikmati tontonan dan menyimak kalau-kalau ada yang bermanfaat dari suara-suara itu untuk menambah wawasan.

Tapi, kadang aku larut juga dalam suasana.

Beliau, senior itu, sambil mengamati, pernah menceritakan kepada ku tipe-tipe kelakuan saat berdinamika dalam forum. Sekarang saya memetik hikmahnya.

Orang kalau merasa punya ide hebat dan berkesempatan untuk menyampaikan idenya akan menggunakan kesempatan berbicara sebanyak yang dia mampu. Kadang, meski diawalinya dengan kalimat “saya pendek saja”, tapi pembicaraan “pendek” itu bisa memakan durasi waktu yang panjang. Soal idenya benar atau salah itu nomor sekian yang penting ngomong dulu. Itu menurut beliau.

Beliau pernah bilang, orang kalau terlalu banyak bicara memuji potensinya sendiri, biasanya tidak sehebat yang dibacarakannya itu. Aku berkali-kali membuktikan ini. Misalnya ada orang yang mengebu-gebu menyampaikan sesuatu ide. Ketika pelaksanaan ide itu diserahkan kepadanya, biasanya akan dijawab ybs “jangan saya, orang lain saja.”

Kemampuannya mencari alasan untuk mengelak dari tanggung jawab sama hebatnya dengan ide yang disampaikannya. Aku kadang kesal dengan orang seperti ini. Kenapa? Karena dia sebenarnya tidak sedang mengusulkan perbaikan, tapi sedang menimpakan beban ke orang lain.

Beliau juga pernah bilang, orang yang suka berprasangka buruk kepada orang lain biasanya melakukan atau pernah melakukan apa yang dituduhkannya itu. Kenapa? Karena orang itu akan menyerang dan menuduh orang lain berdasarkan persepsi pribadinya dan persepsi ini biasanya berasal dari pengalamannya sendiri sehingga dia berpikir kelakuan orang lain sama dengan kelakuannya.

Beliau sambil mengamati di belakang, kadang juga memaksa untuk mengambil kesempatan berbicara menyampaikan gagasannya. Kenapa? Karena menurut beliau arah pembicaraannya sudah harus di luruskan. Beliau akan mengambil tanggungjawab terhadap apa yang beliau sampaikan.
Kepada ku pernah beliau katakan, diam itu emas, tapi pada keadaan tertentu kita tidak boleh diam, karena diam kita akan mendatangkan kotoran.

Beliau juga menceritakan kepada ku tentang orang yang merasa hebat sendiri. Orang yang hebat sendiri ini adalah orang yang ber-ide di awang-awang. Semua orang bodoh dan rendah dimatanya. Hanya saja, meski punya gagasan hebat di sana sini tapi ybs tidak mempunyai kemampuan untuk mengenali situasi dan potensi. Sehingga bisa dipastikan gagasan hebatnya itu hanyalah angan-angan yang tidak bisa dilakukan, kalaupun bisa akan morat-marit pelaksanaannya.

Pernah juga beliau bercerita soal orang sombong yang goblok. Karena sombongnya itu, ybs menjadi goblok. Kesombongannya itu membuatnya ngotot dan enggan menerima pandangan orang lain. Dia saja yang benar. Lalu mengumbar keinginannya sendiri yang jika dipikirkannya dengan baik sebenarnya hanyalah ekspresi kekonyolan. Kadang beliau suka bergumam saat mendengar seseorang bicara “hmm, sudah sombong, goblok pula.”

Yang membuat beliau paling jengkel adalah beracun mulut. Aku sempat tertawa waktu beliau menggunakan istilah beracun mulut. Kira-kira secara umum mirip pengertiannya dengan pahit lidah. Tapi pahit lidah menurut beliau kontennya bisa negatif bisa juga positif. Beracun mulut ini sudah pasti negatif, terdengar luar biasa tapi isinya sebenarnya sampah. Menurut beliau inilah yang paling merepotkan karena kita sulit menghindari keterpesonaan.

Beliau juga sering sekali memberikan nasehat kepada ku. Jangan berbicara kalau tidak terlalu paham, karena itu hanya mengumbar kebodohan. Jangan menyampaikan dan menilai ide, kalau kita sendiri tidak beres. Jangan menyerang orang lain kalau kita tidak lebih baik dari orang yang kita serang.

Lalu apakah kita tidak boleh berbicara? Kata beliau, boleh. Tapi, beliau bilang, perkuat pengetahuan mu dan tingkatkan kemampuan mu karena sungguh mubazir kalau apa yang kau bicarakan dan apa yang kau lakukan tidak memberikan kemanfaatan. Kalau kau tidak paham dan tidak mampu, menyimaklah dan belajarlah.

Jika kita memaksakan diri, kita bukan bagian dari solusi, tapi bagian dari kegaduhan. Pada situasi ini, kita pun sah menjadi anggota aktif dari rapek mancik-mancik.

“Lalu, diantara yang banyak bicara itu, siapa yang harus kita dengarkan dengan baik, Pak?” tanya ku. Beliau bilang, “Cukup dengarkan saja orang yang membuat kepala mu menjadi terang dan mengalir ide-ide positif yang baru. ”

Begitulah…

Selanjutnya Baca :

Rapek Mancik (Bagian 2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *