Cara Menghilangkan Waktu Online di Whatsapp dan Sosial Media

You're The Star!

Cara Menghilangkan Waktu Online di Whatsapp dan Sosial Media

25/08/2019 How To Tips Trik 0

Cara Menghilangkan Waktu Online di Whatsapp dan Sosial Media

Saat manusia berlari 100 mil tanpa berhenti atau meneguk air dan makanan, risiko untuk mengalami cedera juga lebih tinggi. Demikian juga dengan entrepreneur yang bekerja. Dalam bekerja, entrepreneur tidak perlu bekerja terus menerus dengan selalu berada di dunia maya. bahkan untuk bisa tetap produktif, mempertahankan fokus dan energi saat bekerja, entrepreneur perlu mematikan koneksi Internet mereka secara total secara teratur agar tercipta keseimbangan dalam kehidupan mereka. Demikian kata seorang pakar entrepreneurship Bob Dorf dalam paparannya yang dipublikasikan di laman CNN.com.

Dorf menceritakan pengalaman pribadinya sebagai seorang pengusaha selama 42 tahun tanpa henti yang selalu mengutamakan waktu untuk bekerja di atas kepentingan diri, bahkan keluarga dan orang-orang di sekitarnya. “Saya kecanduan bekerja karena begitu mencintai pekerjaan ini, bahkan setelah 42 tahun berada di dunia entrepreneurship, termasuk kegiatan menulis, menerbitkan buku dan memberikan berbagai kuliah mengenai bukunya “Startup Owner’s Manual” yang saya tulis bersama Steve Blank, seorang pionir pengembangan konsumen.

Dorf bercerita, “Dulu saya terjebak dalam irama kerja yang amat cepat dengan beban kerja padat. Saya terbiasa mengirimkan 200 lebih surat elektronik dalam sehari dengan menggunakan berbagai perangkat. Saya mengembangkan dan (mencuri) lusinan alat untuk memutuskan koneksi dengan dunia maya dan kepungan informasi yang melanda jutaan manusia di seluruh pelosok dunia. Dan Dorf menekankan bahwa pola kerja seperti itu kurang sehat bagi entrepreneur yang bersangkutan.

Dorf menyarankan entrepreneur untuk memutuskan koneksi Internet beberapa jam dalam sehari di luar waktu tidur kita untuk lebih menghayati kehidupan di luar layar gadget kita. Dulu pekerja mampu meninggalkan pekerjaan mereka setelah meninggalkan kantor seusai jam kerja tetapi sekarang teknologi membuat kantor itu terus ikut di manapun pekerja berada.

Trik lainnya yang diberikan Dorf ialah dengan menanyakan pada diri kita sendiri, “Akankah hal yang buruk benar-benar terjadi antara pukul 5 sore hingga pukul 6 petang saat saya tak memeriksa kotak masuk surel saya sama sekali?

Untuk mengklaim kembali kehidupan kita, buatlah sebuah daftar terpisah berisi trik dan aturan untuk diterapkan pada diri Anda sendiri. Dorf memberikan sejumlah contohnya:
• beralih ke sesuatu yang lain: Saat lelah dan bosan dengan proyek A, pindahkan perhatian ke hal lain yang lebih mudah, berbeda, menyenangkan untuk dilakukan. Mengubah ritme kerja juga menjadi salah satu trik ampuh mengembalikan prodiktivitas yang loyo dan Anda kembali menuju proyek yang semua (yang lebih sukar) dengan pikiran dan semangat yang jauh lebih segar sehingga berpeluang menyelesaikannya dalam waktu lebih singkat.

• Membuat sebuah draft: Daripada terpaku pada layar komputer terus menerus, cobalah beralih ke metode lama, dengan menuangkan rencana atau ide apapun terkait dengan usaha ke selembar kertas kosong.

• Setelah pukul 10 malam, usahakan untuk mematikan semua gadget komunikasi yang Anda miliki di rumah. Dengan demikian, Anda akan bisa terlelap lebih mudah. Tidur malam yang berkualitas adalah salah satu prsayarat untuk bekerja lebih produktif di siang harinya. Jangan khawatir karena teman kerja bisa menghubungi Anda lewat telepon rumah, jika memang ada hal mendesak yang sangat perlu dibicarakan segera. Namun, biasanya hal itu tidak akan terjadi.

BACA :   Aplikasi Google Photo yang Perlu Kamu Ketahui

• Begitu juga saat Anda mengunjungi seorang teman. Simpanlah perangkat komunikasi atau smartphone Anda di saku, hal ini dilakukan untuk memberi Anda dan teman Anda kesempatan yang lebih intens dalam berkomunikasi tatap muka. Anda tidak terkesan mengabaikan teman saat harus menjawab telepon atau email, sementara teman Anda tidak merasa tersinggung saat Anda sibuk dengan SmartPhone Anda terus menerus. Dengan demikian hubungan sosial Anda akan lebih erat dan sehat.

• Tetapkan waktu tanpa gadget secara ketat saat waktu makan bersama dengan orang terdekat. Jangan biarkan mata dan perhatian Anda semua terpaku pada smartphone atau game di tablet PC. Nikmati makanan dan pembicaraan yang bisa dilakukan di meja makan. Percayalah Anda akan merasa lebih segar untuk bekerja kembali setelah bercakap-cakap santai dengan anak dan istri/suami Anda.

• Melakukan kegiatan kesukaan di antara kesibukan. Jika Anda menyukai golf, lakukan saja di sela mengerjakan sebuah proyek. Tak perlu berjam-jam. Cukup 15 hingga 20 menit sudah cukup untuk memberikan persepktif baru dalam bekerja. Ibarat sebuah komputer, otak Anda akan lebih segar jika tombol restart sudah ditekan.

• Jeda istirahat selama 20 menit untuk berolahraga setiap harinya. Lakukan aktivitas yang mengruas keringat dan terukur untuk mendapatkan manfaat kesehatan yang maksimal meski dalam waktu yang minimal. Ada baiknya olahraga singkat ini diikuti dengan mandi selama 5 menit dengan air hangat untuk menyegarkan kembali otot yang menegang setelah lama bekerja.

Rekan kerja Dorf, Steve Blank, yang juga seorang maniak kerja memiliki strategi khusus untuk bisa memelihara hubungan yang langgeng dengan pasangannya meski harus bekerja siang malam sebagai seorang entrepreneur di Silicon Valley. Ia menetapkan Kamis malam setiap minggu sebagai saat sakral yang tidak bisa diganggu gugat oleh semua urusan yang terkait dengan pekerjaan. Blank memilih untuk mendedikasikan waktu ini pada istrinya. Hanya urusan yang sangat penting yang bisa membuat Blank beralih dari istrinya.

Sebenarnya ada berbagai macam cara lain yang bisa jadi lebih efektif untuk masing-masing orang. Beberapa menyukai bersepeda atau berjalan-jalan saat pikiran penuh beban pekerjaan. Sebagian lainnya menyukai bergerak dan berkeringat di pusat kebugaran sehingga Anda mendapatkan lingkungan yang segar dan jauh dari pekerjaan.

Entrepreneur umumnya menganggap bekerja selama 60 sampai 80 jam perminggu merupakan rutinitas standar. Tambahkan 10 jam istirahat lagi ke waktu Anda dalam seminggu untuk membuat 60 jam bekerja itu menjadi lebih produktif. Dan sebelum Anda kembali memeriksa email di kotak masuk yang penuh itu, Anda bisa menyusun sebuh daftar berisi 3 trik yang bisa digunakan sebelum akhir minggu berakhir. Dijamin Anda akan mendapatkan tingkat produktivitas yang lebih tinggi. (*AP)

BACA :   Analisis Usaha Video Shooting Photography

Pekerja Produktif

Anda melihat rekan-rekan Anda menikmati kopi pagi bersama, sementara Anda begitu sibuk mengerjakan berlembar-lembar kertas di meja Anda. Atau rekan-rekan Anda keluar bersama-sama untuk makan siang, sementara Anda hanya membuka kotak bekal makanan di meja. Belum tentu pemandangan tersebut menunjukkan Anda bekerja jauh lebih keras atau lebih produktif dibanding rekan-rekan Anda.

Bisa jadi rekan-rekan Anda memang lebih jago mengatur waktu kerja dan melakukan kebiasaan yang bisa mendorong produktivitas. Untuk bisa seperti rekan-rekan Anda, ada setidaknya delapan hal yang bisa dilakukan untuk mendorong produktivitas dan menurunkan tingkat stres.

1. Banyak orang berpikir bekerja tanpa henti berarti produktif
Kalau otak Anda tidak berfungsi optimal, Anda tidak bekerja semaksimal yang Anda pikirkan. “Melakukan break (jeda kerja) seperti memencet tombol ‘reset’. Tindakan tersebut membantu mengosongkan tempat persembunyian di otak sehingga Anda memiliki ruang untuk diisi kembali,” kata Christine Hohlbaum, penulis The Power of Slow: 101 Ways to Save Time in Our 24/7 World.

Dia menyarankan agar kita meninggalkan meja kerja untuk makan siang. Dia juga menyarankan jeda-jeda lain, seperti jeda lima menit di pagi hari sebelum mulai kerja. Juga sekitar 10-15 menit di sore hari. Bisa saja dengan menikmati kopi atau teh, membaca buku, atau sekadar jalan-jalan.

2. Memulai hari dengan menjejakkan kaki yang tepat
Menurut sebuah studi di Fisher College of Business di Ohio State University, jika seorang karyawan dalam mood yang tidak bagus saat tiba di kantor–baik karena masalah keluarga atau karena perjalanan ke kantor–itu bisa mengurangi produktivitas sebanyak 10 persen. Nah, kalau Anda tidak bisa selalu datang dengan suasana hati yang senang, sebaiknya habiskan 5-10 menit di awal ‘hari’ Anda untuk dekompresi. “Ciptakan ritual. Mungkin kumpul-kumpul di ruang break kopi atau keliling kantor dan menyapa semua orang. Tak penting apa yang Anda lakukan, selama Anda mengembangkan rasa hubungan (dengan rekan kerja),” kata Holhbaum.

Membelok sambil menyapa rekan kerja saat masuk kantor memberi Anda rasa fokus. “Ketika Anda merasa Anda bagian dari upaya besar, Anda merasa lebih terhubung dengan kenapa Anda di situ dan itu yang membuat semua perbedaan di dunia ini.”

3. Memikirkan pilihan makanan dengan baik
Anda adalah apa yang Anda makan. Dan makan makanan berat di tengah hari akan membuat Anda merasa lesu sepanjang siang hingga sore. “Jadi, pikirkan apa yang Anda makan waktu makan siang,” kata Holhbaum.

Kuncinya, jaga kadar gula darah Anda sepanjang hari. Kari Kooi, RD, ahli diet kebugaran di rumah Sakit Methodist di Houston, merekomendasikan tiga makanan ringan dan dua kali snack selama bekerja. “Makanan berat membuat Anda merasa melempem karena mereka membutuhkan energi untuk dicerna,” kata Kooi.

BACA :   Download Apk Hallo nDasmu Terbaru 2019

4. Membuat daftar kerja yang fleksibel
Membuat daftar yang akan dilakukan dalam sehari adalah cara yang bagus untuk membuat kerja seharian lebih terstruktur. Tetapi terkadang itu menjadi perangkap yang membuat Anda tidak fleksibel. Banyak orang merasa hari mereka hancur kalau harus mengubah rencana. “Tetapi orang yang paling efektif paham itu adalah bagian dari kerja,” kata Vicki Milazzo, penulis Wicked Success is Inside Every Woman.

5. Menggunakan teknologi dengan sungguh-sungguh
Dalam dunia akses 24/7 (24 jam/7 hari) saat ini, sangat sulit mengontrol penggunaan teknologi. Memang tak mungkin menghindari penggunaan teknologi. Tapi Anda harus mendisiplinkan diri berapa lama Anda menghabiskan waktu untuk berselancar di laman-laman kesayangan Anda atau juga situs jaringan sosial atau pertemanan.

Juga batasi waktu mengecek surel, terutama yang pribadi. “Mengirim 100 e-mail tidak selalu menjadi hal produktif. Dan seperti kita tahu, e-mail akan mengundang e-mail. Mereka seperti kelinci kecil,” kata Holhbaum dengan canda. Karena e-mail yang dikirim akan mengundang e-mail jawaban dan e-mail jawaban berikutnya.

6. Menyeimbangkan beban kerja mereka
Beragam tugas membutuhkan kadar konsentrasi yang berbeda yang bisa Anda manfaatkan. Mulai dengan mengidentifikasi dan menempatkan tugas-tugas Anda ke dua kategori: kerja yang ‘printil-printil’, yang agak ringan dan kecil, dengan kerja yang intensif. Yang printil-printil adalah tugas-tugas kecil yang gampang diatur, seperti mengurus surel atau telepon.

Kerja intensif, misalnya tugas-tugas manajemen, menyiapkan presentasi, menulis, atau menyunting. Milazzo merekomendasikan jam panjang untuk kerja intensif dan diselingi 15-30 menit untuk tugas-tugas ringan secara reguler. Dengan cara ini, Anda bisa menyelesaikan beragam tugas dan tidak kehabisan energi hanya untuk satu tugas.

7. Menempatkan kesempurnaan di urutan pertama
Menyelesaikan pekerjaan dengan sempurna selalu ditekankan sejak dini. Sikap seperti itu bisa menjadi tidak produktif jika tidak dikelola dengan baik. Sangat penting untuk memilih pertempuran Anda. “Perempuan, secara alami, perfectionist,” kata Milazzo. “Jadi, kita harus membedakan apa yang membutuhkan kesempurnaan.”

Tentu saja kita ingin sempurna dalam pekerjaan dengan situasi apa pun. Tetapi kalau Anda tidak cukup waktu, buatlah prioritas. Misalnya Anda menulis memo untuk rekan kerja, tak perlu dicek per kata sampai tiga kali. Tetapi kalau menyiapkan bahan presentasi, di situlah Anda harus mengerahkan seluruh energi.

8. Tahu kapan dan bagaimana berkata ‘tidak’
Sangat mudah kita teralihkan pikiran atau kewalahan menghadapi beban kerja. Tetapi salah satu rahasia orang yang sangat produktif adalah mereka belajar kapan dan bagaimana mengatakan ‘tidak’. Untuk permulaan, katakan ‘tidak’ ke para pengeluh dan orang-orang yang mengganggu. Namun ketika tiba saatnya mengatakan ’tidak’ ke bos, katakan dengan baik tetapi tegas. Tidak harus dengan keras bilang ‘tidak’. Tapi bisa minta dia memprioritaskan apa yang lebih penting dari semua yang ada di meja Anda. “Ketika pekerja melakukan itu, bos biasanya akan mengerti,” kata Milazzo.