Enak Mana Jadi Fotografer atau Kameramen Video?

You're The Star!

Enak Mana Jadi Fotografer atau Kameramen Video?

04/01/2017 Kameramen 0
Setiap profesi atau bisnis, mesti ada resiko dan tantangan atau kendalanya di samping peluangnya.
 
Orang yang berjiwa enterpreunership mampu menangkap segala peluang yang ada, serta mereka dapat mengambil tindakan sesuai potensi yang ada pada saat itu.

Usaha di bidang Fotografi (Studio Photo & Video Production (Video Shooting – Editing)) ini cukup lumayan peluangnya. 

 
Hanya saja membutuhkan skill dan instink untuk menangkap peluang dan cara memasarkan usaha.
 
Tidak seperti apa kata Om Bob Sadino, suatu bisnis yang bisa dijalankan bahkan oleh orang bodoh sekalipun, seperti jual sayur, hanya perlu keberanian membuka usaha saja. Nanti akan nampak sendiri peluang dan tantangannya
 
Namun tidak demikian halnya untuk bisnis Fotografi dan Video Shooting ini, mau dibawa kemana arah jalan usaha? Perlukan stategi dan kekuatan jiwa untuk mengharunginya.
 
Tidak juga sama dengan membuka restoran atau jualan pakaian jadi, jual kain, dan lain sebagainya. Yang hanya perlu kesungguhan dan modal. 

Tapi dalam bidang fotografi ini. Mungkin mirip dengan usaha bengkel, harus punya skill, memperbaiki motor atau mobil, dll. Kalau tidak ada keahlian di bidang ini, jangan coba-coba membuka usaha. BIsa-bisa tekor bandar. Siap-siap aja gulung tiker atau karpet.

BACA JUGA:

Manfaat dan Pentingnya Skill Video Editing dalam Era Globalisasi

Peluang dan Kendala Usaha Travel & Jasa Rental Mobil

Peluang dan Kendala Usaha Bimbel (Bimbingan Belajar)

Begini, saya sudah coba berbagai bisnis, mulai dari jual bakso, sampai travel umroh.

 
Setiap orang boleh beda, tapi untuk saat ini adalah yang paling bertahan dan berkembang adalah bidang fotografi atau video shooting.
 
Kenapa begitu? Ketika merintis usaha travel angkutan dan rental mobil. Untuk membuka usaha ini kita perlu punya kendaraan minimal 1.
 
Tahu sama tahu aja, modal untuk membeli mobil paling minim 100-an juta, kalau mau yang bagus itu pun seken. Yang baru mulai dari 200-an juta.
 
Itu baru satu! Kalau banyak? Bisa sampai milyaran. Sudah begitu untuk hanya mendapatkan ratusan ribu rupiah biaya sewa … perlu modal ratusan juta.
 
TIdak cukup smapai di situ, kendala lainnya adalah armada kendaraan rantal bisa dilarikan alias dibawa kabur orang.
 
Bila yang merental mobil membawa kabur mobilnya. Habislah. Tamat Riwayat. Untung dikit Modal dan Resiko Besar.

Sekali lagi setiap orang tidak sama! Tapi di bidang photo video, untuk dapat uang ratusan ribu bahkan jutaan cukup kerja 1-2 hari.

 
Atau kalau ada yang bisa direntalkan, (ini saya sudah lakukan) misalnya kamera, modal 10-an jt rupiah bisa direntalkan 200-300an ribu/hari. Modal hanya puluhan juta.
 
Sedang Rental Mobil untuk dapat uang yang sama harus modal 200 jtan (Xenia-Avanza).
 
Coba kira-kira worth mana? Katakanlah kamera dilarikan alias dibawa kabur dan tak kembali (ini pernah kami alami), ya minimal kamera pernah digunakan dan membayar biaya pemakaiannya. modalnya juga cuma puluhan juta saja, tidak terlalu besar seperti mobil. Bisa nangis darah dibikinnya kalau dibawa kabur atau digelapkan! Hal ini terjadi pada teman kami, dan sampai retak hubungan keluarga dibikinnya.
 
Tapi di antara kedua profesi ini jadi kameramen atau fotografer pilih mana?

Di antara kedua profesi ini Kameramen dan Fotografer? Enak mana cameramen atau photographer … ? Sebenarnya kembali ke diri kita masing-masing, cenderung ke arah mana dan kesiapan mental kita. Tapi sebelum dijawab ada baiknya kita perhatikan dan pelajari tabel berikut:

Perbandingan Peluang Usaha Photografi dan Video Shooting

 
 
PHOTOGRAPHY
VIDEO PRODUCTION
 PERCETAKAN
DARI PELUANG
9 dari 10 Orang memakai Jasa Photographer
1 Dari 10 Orang yang Mengadakan Acara, meminta Dok Video
Sebelum Cari FG, Klien akan mencari Percetakan, utk mencetak Undangan. Peluangnya jadi pintu, tawarkan  foto & Video
Bahan & Biaya Operasional
Kalau dapat project photo yang standar, sulit melempar job karena budget terbatas beli album, biaya cetak foto dll.
Order murah pun masih bisa melempar
Lumayan cukup fairlah, usaha percetakan ini sejak dulu hingga sekarang masih tetap ada
Kendala
Bidikan kurang Bagus
Editan kurang memuaskan
Klien minta revisi terus
Data Foto Hilang
Biaya Terlalu Rendah
Kamera Jadul
Komputer Kurang Memadai
Data Video Hilang
Design Tidak Disetujui
Salah Cetak
Perhitungan Kurang Tepat

Jadi Kesimpulannya

Ada orang cenderung ke dunia fotografi, maka sebaiknya pilih jadi fotografer

Tapi bila siap bergelut dengan dunia multimedia terutamanya broadcasting, silakan ambil jurusan kameramen.
 
Ada juga fotografer yang mengambil ranah videografi. Sebaliknya kameramen juga tidak mau kalah, mereka belajar tentang fotografi.
 
Tidak ada yang salah dari pilihan keduanya. Justru di sini sebaiknya menggabungkan kedua usaha PHOTO VIDEO itu, karena bisa lumayan hasilnya.
 
Setidaknya salah satu job dikasih ke kru atau anggota untuk menghandle, misalnya fotografer. Dan bosnya menhandle Video atau sebaliknya.
 
Karyawan atau pegawai freelance, bukannya ke fotografer profesional yang sudah minta bayaran yang tinggi, sebab biayanya lebih mahal tentunya.
 
Sebagai owner atau pemilik usaha harus mempunyai kedua skill ini, baik shooting ataupun fotografi. Ini akan lebih mudah dan fleksibel pada kondisi penting.
 
Tapi untuk jaga-jaga sebaiknya juga jari mitra kerja, dan bikin kesepakatan kerjasama walau tak tertulis untuk ambil file saja berapa harga?
 
Dalam hal ini kita harus menghitung dan menetapkan harga lebih mahal dari, kalau kita jalani sendiri. Kalau kita mau dapat untung atau laba yang cukup lumayan. Kalau tidak, akan gigit jari saja, karena paket mepet. Resikonya kalau tidak bagus hasilnya kita akan kena imbasnya.
 
Justru itu perlu menetapkan harga yang sesuai, supaya sama-sama enak ke fotografer mitra, dan kita pun ada bagiannya. Keuntungannga jika ada kendala, peralatan rusak misalnya kita bisa cas dari sana. 

Karena profesi fotografer alias tukang motret atau apalah namanya walaupun sudah banyak, tapi masing-masing punyai ciri kemampuan dan rezeki sendiri-sendiri.

 
Persaingan yang ketat bukan berarti harus membuat kita mundur. Tapi justru ini sebagai pelengkap utama yang harus dimiliki seorang kameramen.
 
Tanpa terkecuali perusahaan yang bergerak di bidang video production kelas dunia pun akan memakainya.
 
Karena ia saling berkaitan alias setali, serangkai dan sangat erat hubungan atau kaitannya. Tidak bisa lepas satu sama lain.
 
Jadi rugi kalau tidak bisa menggabungkan 2 bidang usaha jasa ini. Tapi itu terserah, kembali kepada masing-masing orangnya, mau mulai dari mana dulu atau mengutamakan yang mana di antara kedua profesi ini.