Wabah Corona dan Umpatan Kalera Orang Minangkabau

Wabah Corona dan Umpatan Kalera Orang Minangkabau

03/11/2022 Motivasi Tips Trik 0

Di Indonesia virus corona ini mulai menjangkit pada Maret 2020. Per 8 November 2020, dilaporkan 438 ribu kasus corona terjadi di Indonesia, di Sumbar 16.019 orang dilaporkan positif, serta 315 orang penduduk Sumbar meninggal dunia setelah terkonfirmasi positif Corona.

Pada masa awal pandemi merebak dan diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), orang-orang merespons dengan ketakutan yang cenderung berlebihan.

Bentuk respons takut di antaranya membuat masyarakat melakukan pembelian barang secara panik, membeli kebutuhan pokok secara berlebihan hingga menyebabkan beberapa toko dan mini market kehabisan stok.

Respons takut berlebihan juga tampak ketika didirikan bilik penyemprotan disinfektan yang kemudian dilarang penggunaannya oleh WHO.

Respons ketakutan akan virus Corona tidak hanya pada manusia saja, tetapi juga pada hewan.

Sebuah video viral di media sosial menunjukkan ayam berlarian setelah peternak menyerukan virus Corona. Ayam-ayam tersebut kemudian masuk ke dalam kandang. Mungkin ini sebuah parody.

Memasuki era “new normal”, seiring dengan himbauan pemerintah untuk “berdamai” dengan virus corona, ketakutan tersebut kemudian berubah menjadi kejengkelan dan kekecewaan.

Bagaimana tidak jengkel, wabah Corona telah meluluhlantakkan perekonomian, penurunan daya beli, banyak orang mengalami pengurangan pemasukan hingga kehilangan pekerjaan karena diPHK massal besar-besaran.

Banyak rencana dan ancang-ancang yang kemudian gagal karena Pandemi. Orang-orang mengeluh, di pasar, di kantor, di media sosial, orang mengeluhkan dampak yang ditimbulkan oleh virus Corona.

“Ndeh, dek korona ko ndak ado bajua bali.” (Duh, semenjak ada Corona tidak ada transaksi jual beli). Dari pedagang barang muda hingga toko-toko besar di mal mengeluh.

“Dek corona ndak bisa baralek.” “Karena corona, tidak bisa berpesta (pernikahan),” kata masyarakat menyambut imbauan Pemerintah Kota Padang untuk tidak mengadakan acara baralek menghindari penyebaran virus Corona.

Juga banyak aduh dan gaduh lainnya yang disebabkan oleh virus Corona. Berangkat dari kata kalera, mungkin suatu hari nanti kata korona bisa menggantikan kata kalera, atau menambah khazanah percaruikan (percarutan).

“Ondeh paja tu sabana kalera parangainyo” menjadi “Ondeh paja tu sabana corona parangainyo.” 🙂

“Kalera ang mah” menjadi “Corona ang mah.”

Akankah ingatan kolektif masyarakat kita mencatat kata Corona sebagai umpatan nantinya?

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *