Membeli Dengan Niat Untuk Mendapatkan, Atau Membeli Dengan Niat Menyalurkan Rejeki?

You're The Star!

Membeli Dengan Niat Untuk Mendapatkan, Atau Membeli Dengan Niat Menyalurkan Rejeki?

21/09/2019 General 0

Membeli Dengan Niat Untuk Mendapatkan, Atau Membeli Dengan Niat Menyalurkan Rejeki?

By : Hermawan GS

Beberapa kali anak saya menanyakan kebiasaan saya membeli sesuatu yang kadang saya sendiri tidak membutuhkan…

Contohnya, saya memborong membeli buah pisang seharga 100 ribu yang dijual seorang nenek-nenek yang duduk di pelataran depan ruko, padahal nantinya buah pisang tersebut saya makan hanya 1-2 biji, dan sisanya saya bagikan ke tetangga rumah…

Atau ketika saya memborong sekeranjang jualan seorang kakek-kakek yang menawarkan dagangan otak-otak kepada saya ketika saya sedang menikmati makan siang bersama istri, awalnya saya merasa kasihan melihat banyak pengunjung restoran yang menolak dagangannya…

Tapi rasa kasihan itu berganti rasa ingin membantu, menolong, meringankan beban hidup, dan membahagiakan orang lain… seketika rasa ingin berbagi rejeki lebih dominan menyelimuti hati..

Saya merasa kehadiran kakek penjual otak-otak di depan saya bukanlah sebuah kebetulan, saya yakin Allah sedang mengingatkan saya, agar saya menyalurkan rejeki yang IA amanahkan kepada saya untuk disalurkan lagi kepada kakek ini..

Maka setelah saya bayar semua isi keranjang dagangannya, saya minta kepada kakek penjual tersebut membagi-bagika otak-otaknya kepada semua pengunjung restoran yang sedang menikmati makan siang..

Anehnya, giliran dikasih gratis, para pengunjung restoran mau menerima otak-otak pemberian kakek ini..

Apa karena dikasih Gratis YA? 🙂

Atau sering saya membeli minuman Air Mineral botol yang ditawarkan di perempatan lampu merah, saya beli 50 ribu(20 botol), saya ambil 2 botol, dan sisanya 18 botol saya minta kepada penjualnya agar dibagikan ke mobil/pengendara sepeda motor yang ada disekitar mobil saya..

Dan banyak lagi contoh-contoh yang lainnya..

Bagi saya, setiap saya membeli sesuatu, apakah sesuatu tersebut memang benar-benar saya butuhkan, atau tidak saya butuhkan, saya selalu niatkan untuk menyalurkan rejeki yang sudah saya terima kepada orang lain..

Apakah saya beli buku, ikut seminar, ikut training, beli baju, beli sepatu, makan di restoran, makan di warung kaki lima, dlsb.. selalu saya niatkan bukan untuk mendapatkan sesuatu, tapi saya niatkan untuk berbagi sesuatu(berbagi rejeki), menyalurkan rejeki yang saya terima kepada sesama..dan vibrasi yang saya rasakan berbeda rasanya, ada suatu rasa yang sensasi happynya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata…

Sejak saya menyadari perbedaan vibrasi(rasa) yang muncul ketika saya membeli dengan niat untuk menyalurkan sebagian rejeki, secara perlahan tapi pasti, pintu-pintu rejeki seolah terbuka lebar…

Apapun usaha yang saya jalankan, semua mudah dan dimudahkan Tuhan, seolah apapun yang saya sentuh selalu menghasilkan uang, apapun yang saya kerjakan membawa banyak keberuntungan..

BACA :   Teknik Shooting yang Nggak Bikin Editor Pusing Kepala dan Sakit Jantung

Tidak ada lagi rasa berat untuk mengeluarkan uang, tidak ada lagi rasa sayang untuk membelanjakan uang…

Sebab, setiap saya membeli barang-barang/sesuatu yang saya butuhkan, saya bukan hanya perasaan senang yang saya rasakan ketika mendapatkan apa yang saya inginkan, tapi yang paling mendominasi adalah perasaan bahagia bisa menjadi saluran rejeki orang lain, perasaan berlimpah rejeki, dan rasa syukur sebab Tuhan masih memberikan kesempatan kepada saya untuk menjadi penerang jalan-jalan gelap hidup banyak orang..

Dulu sebelum saya memiliki kesadaran ini, saya sering berhitung-hitung dahulu sebelum membelanjakan uang, ada perasaan berat untuk mengeluarkan uang..jika tidak benar-benar membutuhkan, saya tidak akan mengeluarkan uang untuk membeli sesuatu…

Dulu saya juga memiliki keyakinan yang sama dengan sebagian besar orang, dengan prinsip,

“Hemat itu pangkal kaya..”

Padahal ternyata tidaklah demikian, karena segala hal yang dilakukan seseorang itu tergantung niatnya, dan rasa yang hadir saat mengerjakannya..

Saat seseorang berniat hidup hemat, membatasi anggaran belanja, biasanya rasa yang muncul adalah takut uangnya berkurang, takut tidak memiliki cadangan uang, takut miskin, dslb maka itulah yang dipancarkan ke semesta..dan semesta akan menangkap/merekam itu sebagai permintaan…

Dan jangan salahkan, jika kehidupan seseorang justru semakin sulit hidupnya, semakin terlilit banyak hutang, semakin miskin, dan semakin memprihatinkan..

Orang-orang seperti ini hanya akan menyakiti dirinya sendiri. Ia bersusah payah mengumpulkan harta agar menjadi orang yang kaya raya. Tetapi dia bakhil tidak ingin mengeluarkan hartanya, dengan tujuan agar dirinya terhindar dari kefakiran…

Namun kenyataannya, ia justru terjerumus pada kondisi yang ingin dihindarinya yaitu kefakiran…

Kehidupannya seakan-akan seperti orang miskin. Ia hidup layaknya orang miskin di dunia namun di akhirat dia akan dihisab dengan hisabnya orang kaya. Sungguh benar perkataan seorang ulama,

“Orang (kaya) yang pelit itu gaya hidupnya gaya hidup orang miskin, tetapi hisabnya hisab orang kaya..”

“Ingatlah, kalian adalah orang-orang yang diminta untuk menafkahkan sebagian harta kalian di jalan Allah, namun di antara kalian terdapat orang-orang yang bakhil. Siapa pun yang bersikap bakhil (kikir), maka sesungguhnya ia bakhil (kikir) terhadap dirinya sendiri, sebab Allah Mahakaya dan kalian adalah orang-orang miskin..” (QS.Muhammad: 38).

“Barang siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr : 9)

BACA :   Pertanyaan yang Sering Muncul Tentang Video Shooting atau Videografi

Tapi jika seseorang mengeluarkan/membelanjakan uang dengan niat untuk melayani kehidupan dengan membantu, menolong, memudahkan, meringankan hidup orang lain..

Dengan niat tulus memberi, berbagi, menyalurkan sebagian rejeki yang diterima nya kepada sesama, secara otomatis rasa yang muncul dalam dirinya akan berbeda…

Rasa yang muncul biasanya adalah rasa kaya raya, rasa berlimpah banyak uang, rasa senang, gembira, bahagia, dan rasa syukur yang luar biasa..sebab dirinya masih mampu menjalankan salah satu perannya sebagai kholifah bumi, sebagai penjaga kehidupan bumi, memastikan roda kehidupan terus berjalan sesuai kehendakNya…menjadi jalan rejeki, menjadi sumber keberuntungan, dan kesejahteraan bagi sesama…

Perasaan senang melihat orang lain senang, bahagia melihat orang lain bahagia, merasa beruntung bisa membuat orang lain merasa beruntung..

Dan otomatis, niat dan rasa yang muncul ini akan di tangkap/direkam oleh semesta sebagai permintaan…sehingga sangatlah wajar jika kehidupan seseorang seolah seperti diliputi kemudahan, keberuntungan, keberlimpahan, dan keajaiban hidup yang tiada pernah berhenti menghampiri..

Jadi membeli bagi saya bukanlah soal mengeluarkan uang, menghabiskan uang, untuk mendapatkan, atau memiliki sesuatu…tapi ini soal amanah, apakah amanah rejeki yang diberikan Tuhan kepada saya, sudah saya salurkan kepada sesama?

Itulah kenapa saya selalu bersyukur setiap saya telah membayar sesuatu, dengan mengatakan begini,

“Ya Allah Ya Robb, Alhamdulillah…aku sudah tunaikan kewajibanku, untuk menyalurkan sebagian rejeki pemberianMu kepada sesamaku..terima kasih Ya Robb, atas segala kesehatan, kemudahan, keberuntungan, keberlimpahan hidup yang Engkau berikan kepadaku sampai dengan saat ini..”

“Ya Allah Ya Robb, aku siap untuk menerima limpahan rejeki, dan keajaiban-keajaiban hidup yang berikutnya, lagi, lagi, dan lagi..aamiin..”

Sahabat..
Bukankah Allah sudah menjamin,

“Orang-orang yang menafkahkan harta di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui..”(QS.Al-Baqarah : 261)

Pada ayat lain Allah mengatakan,

“Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.” (Q.s. al-Baqarah: 265)

“Katakanlah, “Sungguh, Tuhanku melapangkan rezeki dan membatasinya bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya.” Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang terbaik..”(QS. Saba’ : 39)

BACA :   Lowongan Kerja Padang

“Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar..”(QS
A-Hadid : 7)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allâh melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan (dalam masalah hutang), maka Allah Azza wa Jalla memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim)

Itulah kenapa, termasuk dalam hal pengeluaran untuk pembayaran internet rumah, PLN, PDAM, biaya sekolah/kuliah anak, iuran kebersihan dan keamanan perumahan, dan sejenisnya saya niatkan juga untuk berbagi rejeki…

Kalau di workshop saya, saya sampaikan agar saat mengeluarkan biaya rutin ini ga terasa berat, dan ringan untuk dilakukan, anggap saja anda sedang membayar sumbangan…

Toh sama-sama anda keluarkan/bayar iuran, mengapa tidak anda anggap saja sebagai sumbangan, kan pasti lebih nyaman rasanya, dibandingkan anda merasa bayar iuran?

Niat anda vibrasi anda saat mengeluarkan sumbangan pasti berbeda sensasinya, ada perasaan anda memiliki banyak uang, perasaan berlimpah rejeki, itulah kenapa anda senang sekali mengeluarkan sumbangan..

Hanya orang-orang yang memiliki mental berkelimpahan yang punya hobby menyumbang..

Jadi sebagai suami setiap bulan, anda bisa nyaman ngobrol dengan pasangan begini,

“Mah bulan ini sumbangan untuk karyawan Telkom sudah dibayar atau belum?, sumbangan untuk karyawan PLN, sumbangan untuk karyawan PDAM, sumbangan untuk Guru-guru sekolah anak-anak? sumbangan untuk petugas kebersihan, petugas keamanan perumahan?”

Atau,

“Mah buruan keluarin sumbangan rutin kita, soalnya kasihan kalau nanti karyawan PLN, PDAM, Guru, Dosen, Petugas kebersihan, Petugas keamanan perumahan dan keluarganya sedih sebab kita telat ngasih sumbangannya..sebab sumbangan kita mereka butuhkan untuk makan..”

Atau, setiap awal bulan istri saya ngomong begini,

“Alhamdulillah ya Pah, bulan ini kita sudah nyumbang buat Karyawan Telkom, Karyawan PLN, Karyawan PDAM, Pegawai dan Guru-guru Sekolah, Rektor, Dosen Kampus anak kita, pemilik kos-kosan, sebesar 10 juta lebih..Alhamdulillah…semoga sumbangan yang kita berikan kepada mereka menjadikan hidup mereka sejahtera ya Pah?”

Bisa kan anda bedakan sensasi rasanya?

Saat anda membayar iuran bulanan, dibandingkan saat anda mengeluarkan sumbangan?

Let’s Transform!

🙏
HGS